Analisis Kebijakan

Analisis CSIS: Diplomasi Pertahanan Indonesia di Era Prabowo dan Tantangan ASEAN

30 Agustus 2026 Indonesia, Kawasan Indo-Pasifik 4 views

Analisis CSIS Washington DC mengungkap bahwa diplomasi pertahanan Indonesia di bawah Presiden Prabowo mengintensifkan hubungan dengan AS, China, dan negara lainnya untuk modernisasi alutsista, namun berisiko menimbulkan ketidakjelasan strategis. Tantangan terhadap sentralitas ASEAN semakin nyata akibat ketegangan di Laut China Selatan, sehingga Indonesia perlu merumuskan doktrin pertahanan yang koheren. Konsistensi dan transparansi postur strategis menjadi kunci untuk menjaga relevansi ASEAN serta mendukung efektivitas diplomasi pertahanan Indonesia.

Analisis CSIS: Diplomasi Pertahanan Indonesia di Era Prabowo dan Tantangan ASEAN

Analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington DC menyoroti pola diplomasi pertahanan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Laporan tersebut mengamati intensifikasi hubungan pertahanan dengan berbagai kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat, China, Prancis, dan Korea Selatan. Upaya ini dilakukan sambil tetap mempertahankan retorika bebas-aktif yang menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia. Fenomena ini mencerminkan strategi Indonesia untuk memanfaatkan persaingan geopolitik global guna mempercepat modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista) tanpa secara formal memihak pada salah satu blok.

Dinamika Diplomasi Pertahanan dan Modernisasi Alutsista

Dalam praktiknya, pendekatan Indonesia terlihat dari peningkatan pembelian alutsista dari beragam sumber serta partisipasi aktif dalam latihan militer multilateral seperti Cobra Gold bersama AS dan Thailand, serta Super Garuda Shield antara Indonesia dan AS. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia berusaha menjalin aliansi taktis dengan berbagai pihak untuk memperkuat kapabilitas pertahanannya. Namun, CSIS mengidentifikasi bahwa strategi 'menjual ke semua pihak' dalam diplomasi pertahanan berisiko menciptakan persepsi ketidakjelasan strategis jangka panjang di mata mitra. Tanpa doktrin pertahanan yang jelas dan transparan, sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan netralitas yang kredibel di tengah meningkatnya tekanan dari kekuatan besar.

Implikasi bagi ASEAN dan Kebijakan Strategis Indonesia

Dari perspektif kawasan, tantangan utama terletak pada sentralitas ASEAN. Ketegangan di Laut China Selatan yang belum mereda, ditambah dengan dinamika internal antarnegara anggota, berpotensi melemahkan peran pemersatu Indonesia di forum regional. Analisis CSIS menekankan bahwa kemampuan Indonesia untuk menjaga ASEAN tetap relevan sebagai platform keamanan kolektif akan sangat bergantung pada konsistensi postur strategisnya. Apabila tekanan untuk memilih sisi semakin kuat, Indonesia harus memiliki doktrin pertahanan yang koheren agar pola kerja sama dengan mitra tetap selaras dengan kepentingan nasional. Kekuatan militer yang memadai pun menjadi prasyarat penting untuk mendukung diplomasi yang efektif.

Ke depan, risiko utama bagi Indonesia adalah terjebak dalam situasi di mana fleksibilitas strategis justru dianggap sebagai ambiguitas oleh mitra. Oleh karena itu, perumusan doktrin pertahanan yang lebih jelas diperlukan untuk menerjemahkan prinsip bebas-aktif ke dalam kebijakan nyata. Selain itu, transparansi dalam pengadaan alutsista dan partisipasi latihan militer akan membantu membangun kepercayaan di kalangan mitra strategis. Jika tantangan ini dapat diatasi, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan sekaligus menjaga integritas ASEAN.

Entitas yang disebut

Orang: Prabowo Subianto

Organisasi: CSIS, ASEAN, Cobra Gold, Super Garuda Shield

Lokasi: Indonesia, AS, China, Prancis, Korea Selatan, Laut China Selatan, Thailand, Washington DC