Geopolitik

ASEAN dan Tantangan Konsensus di Tengah Kompetisi Amerika-China di Laut China Selatan

05 Agustus 2026 Asia Tenggara, Laut China Selatan 8 views

Kesulitan ASEAN mencapai konsensus tegas mengenai Laut China Selatan mencerminkan fragmentasi strategis akibat tekanan kompetisi AS-China, yang melemahkan posisi tawar kolektif kawasan. Bagi Indonesia, situasi ini mengindikasikan perlunya penguatan strategi nasional mandiri, baik dalam diplomasi maupun postur pertahanan maritim. Peluang ke depan terletak pada kepemimpinan Indonesia dalam membangun inisiatif dialog inklusif atau kerja sama minilateral dengan negara-negara ASEAN yang sepaham, sambil terus berupaya merevitalisasi sentralitas ASEAN dalam jangka panjang.

ASEAN dan Tantangan Konsensus di Tengah Kompetisi Amerika-China di Laut China Selatan

Pertemuan tingkat menteri ASEAN menghadapi kesulitan signifikan dalam menyusun pernyataan bersama yang kuat terkait situasi di Laut China Selatan. Dinamika ini bukan semata soal perbedaan pendapat biasa, melainkan cerminan langsung dari tekanan geopolitik yang diakibatkan oleh kompetisi strategis Amerika Serikat dan China yang semakin intens. Beberapa negara anggota, seperti Vietnam dan Filipina yang secara langsung terdampak sengketa, mendorong penggunaan bahasa yang tegas guna menanggapi aktivasi militer dan insiden di lapangan. Di sisi lain, negara-negara seperti Kamboja dan Laos cenderung memilih pendekatan diplomatik yang lunak, yang mencerminkan pertimbangan hubungan ekonomi dan politik yang lebih dalam dengan Beijing. Ketegangan internal ini menggarisbawahi sebuah realitas yang mengkhawatirkan: kapasitas ASEAN untuk bertindak sebagai satu entitas kolektif dalam isu-isu keamanan kritis sedang diuji secara fundamental.

Fragmentasi Strategis dan Pelemahan Posisi Tawar Kolektif

Kesulitan mencapai konsensus yang kuat dalam forum ASEAN bukanlah insiden terisolasi, melainkan gejala dari fragmentasi strategis yang lebih dalam di kawasan. Fragmentasi ini secara langsung memperlemah posisi tawar ASEAN sebagai sebuah blok dalam percakapan geopolitik yang lebih luas, terutama dengan kekuatan ekstra-kawasan seperti AS dan China. Ketika suara ASEAN terpecah, daya tariknya sebagai mitra yang setara dan pemain sentral dalam arsitektur keamanan regional berkurang. Konsekuensi strategisnya serius: ASEAN berisiko menjadi arena, bukan aktor, dalam persaingan besar. Masing-masing kekuatan besar dapat memanfaatkan perbedaan pendapat ini untuk memperkuat pengaruhnya melalui pendekatan bilateral atau minilateral dengan negara-negara anggota tertentu, yang pada gilirannya dapat semakin mengikis sentralitas ASEAN.

Implikasi Strategis dan Imperatif Kebijakan bagi Indonesia

Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi strategis yang mendalam dan mendesak. Pertama, asumsi bahwa ASEAN selalu dapat diandalkan sebagai satu suara yang solid dalam menghadapi sengketa maritim kini harus ditinjau ulang. Ketergantungan yang berlebihan pada mekanisme konsensus ASEAN dalam merespons perkembangan cepat di Laut China Selatan dapat menimbulkan kerentanan. Oleh karena itu, strategi nasional Indonesia perlu diperkuat secara mandiri, mencakup pilar diplomasi yang lebih lincah dan postur pertahanan maritim yang kredibel. Peningkatan kemampuan pengawasan maritim (maritime domain awareness), modernisasi alutsista Angkatan Laut dan Udara, serta penguatan kehadiran di wilayah perbatasan laut menjadi lebih krusial daripada sebelumnya. Diplomasi harus aktif tidak hanya di dalam ASEAN, tetapi juga langsung dengan pihak-pihak yang bersengketa dan kekuatan besar, untuk secara jelas menyampaikan kepentingan nasional Indonesia dalam menjaga stabilitas dan menghormati hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.

Situasi ini sekaligus membuka peluang dan peningkatan urgensi bagi Indonesia untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih proaktif. Satu opsi strategis adalah memprakarsai atau memimpin inisiatif dialog inklusif di luar kerangka formal ASEAN yang terkadang tersumbat oleh prosedur dan perbedaan kepentingan. Forum seperti ini dapat mengumpulkan negara-negara yang secara tulus berkomitmen pada aturan hukum dan stabilitas kawasan. Alternatif lain adalah memperkuat kerja sama minilateral dengan negara-negara ASEAN yang memiliki kepentingan dan pandangan serupa mengenai pentingnya menjaga hukum internasional di laut, misalnya dengan Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Kerjasama teknis di bidang keamanan maritim, pertukaran informasi intelijen, dan latihan bersama dapat dibangun di atas platform ini, menciptakan koalisi kepentingan yang nyata meski tidak mencakup seluruh anggota ASEAN.

Ke depan, risiko utama adalah terkikisnya secara permanen efektivitas ASEAN dalam menangani isu keamanan tradisional, yang dapat mendorong negara-negara anggota untuk sepenuhnya mengandalkan aliansi eksternal atau tindakan unilateral. Hal ini berpotensi meningkatkan potensi konflik dan mempercepat militarisasi kawasan. Namun, terdapat juga peluang untuk melakukan revitalisasi diplomasi ASEAN jika negara-negara inti seperti Indonesia dapat menjembatani perbedaan dan mengarahkan fokus kembali pada kepentingan kolektif jangka panjang kawasan. Refleksi strategis yang diperlukan adalah bahwa dalam lingkungan geopolitik yang semakin kompetitif, diplomasi Indonesia harus luwes: memperkuat pondasi nasional, memimpin dalam koalisi yang lebih kecil dan efektif, sambil terus berupaya memulihkan sentralitas ASEAN. Keamanan maritim Indonesia tidak bisa lagi hanya digantungkan pada konsensus sepuluh negara, tetapi harus didukung oleh strategi mandiri yang kuat dan jaringan kemitraan yang strategis dan fleksibel.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: Amerika, China, Laut China Selatan, Indonesia