Dalam lanskap geopolitik Indo-Pasifik yang semakin dinamis, ASEAN menghadapi tantangan eksistensial untuk mempertahankan relevansinya sebagai kawasan yang stabil dan netral. Persaingan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan China telah menempatkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara pada posisi yang sulit: di satu sisi, ada tekanan untuk memilih pihak, di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk menjaga sentralitas dan netralitas ASEAN. Visi ASEAN sebagai epicentrum of growth—pusat pertumbuhan ekonomi—kini diuji oleh narasi rivalitas yang dibawa oleh kedua negara adidaya tersebut. Secara konseptual, geopolitik kawasan saat ini dicirikan oleh persaingan pengaruh di tiga ranah utama: ekonomi, keamanan, dan teknologi. AS melalui berbagai inisiatif seperti Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) dan penguatan aliansi sekutunya, berupaya mengimbangi dominasi China di Asia Tenggara. Sementara itu, China memperkuat pengaruhnya melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) dan peningkatan kerja sama di bidang keamanan siber serta maritim.
Implikasi Strategis bagi Indonesia dan ASEAN
Bagi Indonesia, situasi ini membawa kompleksitas yang signifikan. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan investasi dan teknologi dari baik AS maupun China untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Kerja sama dengan kedua negara adidaya ini tidak bisa dihindari, baik di sektor infrastruktur, energi, maupun pertahanan. Di sisi lain, Indonesia harus secara hati-hati menjaga kedaulatan dan menghindari jebakan konflik proxy yang dapat merusak stabilitas domestik. Kepentingan nasional Indonesia di Laut China Selatan (LCS) dan keamanan maritim menjadi isu krusial yang memerlukan pendekatan diplomasi yang lincah (lincah diplomacy). Setiap langkah yang dinilai terlalu dekat dengan salah satu pihak dapat memicu reaksi dari pihak lain, sehingga berpotensi mengganggu kerja sama ekonomi dan keamanan regional. Dari perspektif pertahanan dan keamanan, stabilitas ASEAN merupakan prasyarat mutlak bagi keamanan Indonesia. Ketegangan di kawasan, terutama terkait sengketa teritorial di LCS, secara langsung berpotensi mengganggu arus perdagangan maritim yang menjadi urat nadi perekonomian Indonesia. Investasi asing yang masuk ke Indonesia juga sangat sensitif terhadap persepsi risiko geopolitik. Oleh karena itu, menjaga agar ASEAN tetap netral dan tidak menjadi medan perang proksi adalah kebijakan yang paling rasional.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Tantangan ke depannya terletak pada kemampuan Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN lainnya untuk memperkuat kapasitas domestik—baik dari segi ekonomi, pertahanan, hingga diplomasi—sebagai upaya meningkatkan daya tawar di tengah tarik-menarik kekuatan besar ini. Risiko utama yang mengintai adalah semakin terpaparnya ASEAN menjadi arena persaingan langsung antara AS dan China, yang dapat mengikis sentralitas ASEAN dan memicu fragmentasi kawasan. Namun, di tengah risiko tersebut, terdapat peluang bagi ASEAN untuk memperkuat integrasi regional dan memanfaatkan posisi netralnya sebagai jembatan dialog. Dengan memperdalam kerja sama intra-ASEAN dan memperkuat arsitektur keamanan regional yang inklusif, ASEAN dapat mempertahankan perannya sebagai epicentrum pertumbuhan yang stabil. Bagi Indonesia, pendekatan politik luar negeri bebas aktif harus terus dijalankan secara konsisten, sembari membangun ketahanan nasional yang tangguh terhadap guncangan geopolitik. Refleksi strategis yang muncul adalah bahwa di tengah tarik-menarik global, kekuatan sejati suatu kawasan tidak terletak pada pilihan pihak, melainkan pada kemampuannya untuk menjaga stabilitas, kemandirian, dan solidaritas kolektif.