Analisis Kebijakan

Cetak Biru Pertahanan Maritim Indonesia: Menjawab Tantangan Geo-Strategis Indo-Pasifik

11 Juni 2026 Indonesia, Indo-Pasifik 5 views
Cetak Biru Pertahanan Maritim Indonesia: Menjawab Tantangan Geo-Strategis Indo-Pasifik
Analisis ini menyoroti kebutuhan Indonesia akan roadmap pertahanan jangka panjang yang menavigasi eskalasi geopolitik di Indo-Pasifik, dengan dampak langsung dari konflik seperti di Selat Hormuz terhadap keamanan dan ekonomi nasional. Titik tekan adalah transformasi dari sekadar modernisasi alutsista menuju penguatan daya tahan geopolitik, dengan tujuan menjadikan Indonesia kekuatan maritim regional yang mampu menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional seperti Selat Malaka dan ALKI. Rekomendasi strategis mencakup transformasi doktrin pertahanan berbasis maritime domain awareness yang terintegrasi antara TNI AL, TNI AU, Bakamla, intelijen strategis, dan sistem siber. Interoperabilitas lintas institusi ini dianggap krusial untuk pengawasan real-time di kawasan vital. Selain itu, diplomasi pertahanan perlu diperluas dengan berbagai negara untuk transfer teknologi, mengurangi ketergantungan impor yang rentan embargo, dan memperkuat industri pertahanan domestik (drone, radar, rudal, siber). Implikasi kebijakan yang utama adalah perlunya perencanaan pertahanan melampaui siklus politik lima tahunan, mengingat ancaman geopolitik bekerja dalam skala puluhan tahun. Analisis ini menegaskan bahwa stabilitas kawasan tidak lagi bisa dijamin hanya oleh diplomasi ekonomi, tetapi memerlukan fondasi keamanan maritim yang kuat dan mandiri, yang didukung oleh konsensus nasional yang berkelanjutan lintas pemerintahan.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI AL, TNI AU, Bakamla

Lokasi: Indonesia, Indo-Pasifik, Selat Hormuz, Selat Malaka, ALKI