Laporan Khusus

Evaluasi Strategi 'Maritime Fulcrum': Capaian dan Tantangan Dekade Pertama Jokowi-Ma'ruf

08 Juni 2026 Indonesia 4 views

Evaluasi satu dekade visi Poros Maritim di bawah kepemimpinan Jokowi mengungkap capaian signifikan di bidang infrastruktur, namun diiringi celah kritis antara konektivitas ekonomi dan postur keamanan maritim. Fragmentasi kebijakan antar-lembaga dan ketergantungan teknologi asing menjadi tantangan strategis utama yang berpotensi melemahkan kedaulatan. Keberlanjutan strategi ini bergantung pada integrasi kebijakan keamanan-ekonomi dan penguatan kemandirian industri pertahanan maritim dalam negeri.

Evaluasi Strategi 'Maritime Fulcrum': Capaian dan Tantangan Dekade Pertama Jokowi-Ma'ruf

Menjelang berakhirnya periode kepemimpinan kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi), sebuah evaluasi mendalam terhadap visi strategi Poros Maritim Dunia menjadi sangat relevan. Visi yang diluncurkan pada tahun 2014 ini berambisi mentransformasi Indonesia dari sekadar negara kepulauan menjadi poros stabilitas maritim di kawasan Indo-Pasifik. Setelah hampir satu dekade, kemajuan di sektor infrastruktur—terutama program Tol Laut dan konsolidasi kehadiran di Laut Natuna—patut diapresiasi sebagai langkah konkret. Namun, dari perspektif analisis strategi pertahanan, terdapat kesenjangan yang mencolok antara penguatan konektivitas ekonomi dan postur keamanan maritim yang berkelanjutan.

Analisis Celah Strategis: Ketimpangan antara Konektivitas dan Deterrence

Evaluasi komparatif menunjukkan bahwa meskipun modernisasi armada TNI AL dan Bakamla telah berlangsung, skalanya belum sebanding dengan luasnya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dan kompleksitas tantangan operasionalnya. Dalam konteks geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif—ditandai dengan klaim maritim yang tumpang tindih dan intensifikasi aktivitas militer asing—kapasitas pengawasan dan penegakan kedaulatan yang terbatas menjadi titik kerentanan strategis nasional. Penguatan posisi di Natuna, meski signifikan, bersifat reaktif dan lebih banyak bernilai simbolis jika tidak didukung oleh strategi keamanan maritim terintegrasi dan kemampuan proyeksi kekuatan yang kredibel. Implikasinya adalah munculnya 'deterrence gap' atau celah penangkalan yang berpotensi dieksploitasi oleh aktor negara lain untuk menguji kedaulatan dan ketegasan Indonesia, khususnya di perairan yang menjadi jalur perdagangan global.

Fragmentasi Institusional: Ancaman terhadap Efektivitas Kebijakan Keamanan Maritim

Tantangan fundamental yang dihadapi visi Poros Maritim bukan semata-mata soal ketersediaan anggaran, melainkan fragmentasi dalam tata kelola dan koordinasi antar-lembaga. Visi ini masih terjebak dalam paradigma sektoral, di mana Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertahanan, dan Bakamla sering kali beroperasi dengan mandat, prioritas, dan prosedur yang kurang selaras. Implikasi strategisnya serius: tanpa integrasi yang kuat antara pembangunan infrastruktur ekonomi maritim dan postur keamanan, aset-aset strategis baru seperti pelabuhan dan jalur Tol Laut dapat berubah menjadi liabilities (beban) yang rentan. Aset tersebut memerlukan biaya pengamanan tinggi dan sulit dipertahankan dalam skenario konflik atau krisis. Oleh karena itu, kebutuhan mendesak adalah penciptaan suatu single command atau mekanisme koordinasi tertinggi untuk urusan maritim, yang mampu mensinkronkan kepentingan ekonomi dengan imperatif keamanan nasional.

Lebih jauh, ketergantungan yang masih tinggi pada teknologi dan industri galangan kapal asing untuk modernisasi armada membawa implikasi strategis jangka panjang bagi kemandirian dan ketahanan nasional. Setiap gejolak atau pembatasan dalam rantai pasok global—yang dapat dipicu oleh ketegangan geopolitik atau kebijakan ekspor negara produsen—berpotensi melumpuhkan kapasitas pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan armada nasional. Risiko ini memperkuat argumen bahwa pembangunan industri pertahanan maritim dalam negeri harus menjadi bagian integral dari strategi Poros Maritim, bukan sekadar program pendamping.

Refleksi Strategis dan Agenda Ke Depan

Evaluasi terhadap satu dekade strategi Poros Maritim di era Jokowi menggarisbawahi bahwa keberhasilan suatu visi geopolitik tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisik, tetapi lebih pada kemampuan membangun postur keamanan yang komprehensif dan terintegrasi. Langkah-langkah ke depan harus berfokus pada penutupan celah strategis yang telah teridentifikasi. Hal ini mencakup percepatan penguatan kemampuan pengawasan maritim melalui sensor dan satelit, peningkatan kapabilitas proyeksi kekuatan TNI AL, serta konsolidasi otoritas maritim untuk menghindari duplikasi dan inefisiensi. Dalam konteks persaingan besar (AS-China) di Indo-Pasifik, Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi fulcrum secara pasif, tetapi mampu mengartikulasikan dan menegakkan kepentingan nasionalnya dengan postur pertahanan yang tangguh dan diplomasi yang asertif. Masa depan Poros Maritim akan sangat ditentukan oleh sejauh mana para pembuat kebijakan dapat mentransformasikan pembelajaran dari dekade pertama ini menjadi suatu doktrin dan kerangka operasional yang lebih koheren, terintegrasi, dan berorientasi pada ketahanan nasional jangka panjang.

Entitas yang disebut

Orang: Jokowi, Ma'ruf

Organisasi: TNI AL, Bakamla

Lokasi: Laut Natuna, Indonesia