Laporan Khusus
Membaca Medan Krisis Pasifik Barat: Implikasi Rivalitas AS-China terhadap Otonomi Strategis Indonesia
Analisis ini menilai Pasifik Barat berada dalam fase 'pra-krisis' berbahaya akibat rivalitas AS-China. Kedua kekuatan membangun postur strategis berbeda: AS mengandalkan akses sekutu dan rudal jarak jauh, sementara China membangun kedalaman maritim melalui pulau buatan.
Bagi Indonesia, ancaman utama bukan invasi langsung, melainkan transformasi ruang strategis nasional—seperti ALKI, Natuna, dan Selat Malaka—menjadi 'ruang operasi' pihak lain. Risiko konkret mencakup gangguan terhadap infrastruktur kritis bawah laut (kabel komunikasi), logistik global, dan tekanan di selat-selat vital.
Implikasi strategisnya menuntut Indonesia segera mengembangkan otonomi strategis defensif. Pergeseran kebijakan pertahanan diperlukan, dari sekadar pengawasan wilayah teritorial menuju kemampuan mengontrol akses dan menegakkan kedaulatan di zona abu-abu. Peningkatan kemampuan kesadaran domain bawah laut, penyangkalan laut defensif, dan perlindungan infrastruktur kritis menjadi keharusan.
Entitas yang disebut
Orang: Milan N. Vego
Organisasi: TNI
Lokasi: Indonesia, Pasifik Barat, Natuna, Selat Lombok, Selat Malaka, AS, China