Analisis Kebijakan
Pasca-Pattimura IV: Refleksi Strategi TNI AL dalam Menjaga Jalur Laut Vital dan Tantangan Armada Kapal Selam Regional
Latihan Gabungan TNI AL 'Pattimura IV' yang baru saja usai menampilkan skenario kompleks pengamanan jalur laut vital seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Natuna. Latihan ini melibatkan kekuatan permukaan, udara, dan bawah laut, dengan fokus pada anti-submarine warfare (ASW) dan penanganan gangguan terhadap kapal niaga. Konteks latihan ini adalah meningkatnya aktivitas militer asing, termasuk patroli kapal selam, di perairan sekitar ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Implikasi strategis dari evaluasi latihan ini menunjukkan bahwa TNI AL perlu meningkatkan kemampuan deteksi bawah lautnya secara signifikan. Ancaman kapal selam konvensional dan nuklir dari kekuatan regional merupakan tantangan riil bagi kedaulatan di laut. Dari perspektif kebijakan, diperlukan percepatan pengadaan sonar array yang lebih modern, pesawat patroli maritim khusus (MPA) seperti Boeing P-8 Poseidon, dan peningkatan kapal selam kelas Nagapasa. Insight analitis mengarah pada kebutuhan doktrin 'sea denial' yang asimetris untuk mengimbangi ketimpangan teknologi, sekaligus memperkuat kerja sama ASW dengan negara-negara anggota AUKUS (Australia, Inggris, AS) dan mitra ASEAN lainnya yang memiliki kepentingan stabilitas laut serupa.
Entitas yang disebut
Organisasi: TNI AL, AUKUS, ASEAN
Lokasi: Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Natuna, Australia, Inggris, AS