Geopolitik
Peningkatan Kerja sama TNI-AU dengan RAAF: Implikasi terhadap Keseimbangan Kekuatan di Kawasan Pasifik Selatan
TNI Angkatan Udara dan Royal Australian Air Force (RAAF) secara rutin menggelar latihan patroli maritim bersama, dengan intensitas dan kompleksitas yang meningkat dalam setahun terakhir. Latihan-latihan ini sering kali melibatkan pesawat patroli maritim seperti Boeing P-8 Poseidon Australia dan pesawat patroli CN-235 atau ATR 72 MPI dari Indonesia, dengan fokus pada operasi pengawasan maritim, pencarian dan penyelamatan (SAR), serta peran anti-kapal selam. Konteksnya adalah kepentingan bersama kedua negara dalam menjaga keamanan jalur laut di celah-celah kepulauan Indonesia dan perairan Pasifik Selatan, yang juga menjadi jalur perluasan pengaruh kekuatan ekstra-regional. Analisis strategis menunjukkan kerja sama ini memperkuat inter-operabilitas antara kedua angkatan udara, membangun kepercayaan, dan secara halus menciptakan jaringan pengawasan maritim yang menghubungkan Pasifik Selatan dengan Asia Tenggara. Implikasinya adalah penguatan kapasitas deteksi dini terhadap aktivitas militer asing di perairan strategis Indonesia. Namun, kerja sama yang erat dengan Australia—sebagai sekutu utama AS—perlu dikelola hati-hati untuk menghindari persepsi bahwa Indonesia sepenuhnya masuk ke dalam orbit pengaruh Indo-Pasifik pimpinan AS, yang dapat memengaruhi hubungannya dengan China. Kerja sama ini adalah contoh praktis dari kebijakan 'mitra dengan semua, sekutu dengan tidak satupun'.
Entitas yang disebut
Organisasi: TNI Angkatan Udara, Royal Australian Air Force
Lokasi: Indonesia, Australia, Pasifik Selatan, Asia Tenggara, Indo-Pasifik, Amerika Serikat, China