Studi terbaru dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta mengungkapkan bahwa negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, tengah menghadapi dilema keamanan yang semakin akut akibat intensifikasi kompetisi antara Amerika Serikat dan China. Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa mayoritas anggota ASEAN masih mempertahankan strategi hedging—memperdalam hubungan ekonomi dengan China sambil menjaga kerja sama keamanan tradisional dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Namun, tekanan untuk memilih sisi (bandwagoning) terus meningkat, terutama dalam isu-isu sensitif seperti status Taiwan dan sengketa Laut China Selatan. Situasi ini menempatkan ASEAN pada posisi yang rapuh, di mana setiap langkah diplomasi harus dikalkulasi secara cermat untuk menghindari kerugian strategis jangka panjang.
Dinamika Strategis ASEAN di Tengah Kompetisi AS-China
Kompetisi antara Amerika Serikat dan China telah menciptakan lingkungan geopolitik yang menuntut respons kolektif dari ASEAN. Namun, perbedaan kepentingan nasional dan tingkat ketergantungan ekonomi masing-masing anggota terhadap kedua kekuatan besar tersebut menyebabkan fragmentasi respons. Sebagai contoh, negara-negara seperti Vietnam dan Filipina memiliki keterikatan keamanan yang kuat dengan Amerika Serikat, sementara Kamboja dan Laos lebih condong ke China. Fragmentasi ini berpotensi melemahkan kohesi dan sentralitas ASEAN, yang merupakan fondasi utama bagi stabilitas kawasan. Padahal, bagi Indonesia, mempertahankan peran sentral ASEAN adalah aset strategis untuk mencegah dominasi kekuatan eksternal dan menjaga tatanan regional yang inklusif. Studi CSIS menekankan bahwa jika ASEAN gagal berbicara dengan satu suara, negara-negara anggotanya akan menjadi lebih rentan terhadap tekanan dan intervensi dari kedua kekuatan besar tersebut. Dilema keamanan ini menjadi pusat perhatian para pembuat kebijakan di Jakarta.
Implikasi bagi Indonesia dan Masa Depan AOIP
Bagi Indonesia, temuan studi ini memiliki implikasi strategis yang mendalam. Sebagai negara yang secara konsisten mengusung prinsip bebas aktif dan menjadi motor utama ASEAN, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan peran sentral organisasi regional tersebut. Fragmentasi respons di antara negara-negara ASEAN akibat perbedaan kepentingan nasional dapat melemahkan ASEAN sebagai forum yang solid. Lebih jauh, ketegangan antara Amerika Serikat dan China juga berpotensi menggeser fokus ASEAN dari isu-isu pembangunan dan konektivitas regional—yang selama ini menjadi prioritas—ke isu keamanan konvensional. Pergeseran ini tidak hanya menguras energi diplomatik, tetapi juga mengancam pencapaian agenda ekonomi seperti Master Plan on ASEAN Connectivity 2025. Dengan demikian, dilema yang dihadapi Indonesia bukan hanya soal memilih antara dua kekuatan, melainkan juga bagaimana menjaga agar ASEAN tidak kehilangan relevansinya sebagai forum yang inklusif dan berorientasi pada pembangunan.
Dalam konteks ini, ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang diinisiasi Indonesia menjadi instrumen diplomasi yang krusial. AOIP menawarkan kerangka kerja yang menekankan kerja sama, inklusivitas, dan aturan main yang disepakati bersama, alih-alih mendorong persaingan blok. Bagi Indonesia, AOIP adalah jembatan untuk mengelola dinamika keamanan regional tanpa harus memihak secara eksplisit. Namun, implementasi AOIP menghadapi kendala, terutama dalam menyelaraskan kepentingan anggota ASEAN yang semakin terpolarisasi. Ke depannya, risiko terbesar adalah jika tekanan geopolitik memecah belah ASEAN, sehingga Indonesia kehilangan daya tawar kolektifnya. Peluang yang ada adalah memperkuat basis ekonomi regional melalui inisiatif seperti RCEP dan menjaga dialog keamanan yang transparan. Refleksi strategis bagi Indonesia adalah bahwa mempertahankan dilema yang terkendali—dengan terus melakukan hedging—lebih realistis daripada memaksakan otonomi penuh di tengah persaingan dua raksasa. Kesimpulannya, studi CSIS menegaskan bahwa ASEAN harus mengelola fragmentasi internal dan eksternal secara hati-hati, atau risiko kehilangan relevansi sebagai poros stabilitas kawasan.