Analisis Kebijakan
Analisis Dampak Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran terhadap Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Indonesia
Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 yang dipicu pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, telah membawa dampak sistemik bagi Indonesia. Sebagai importir neto minyak dengan ketergantungan sekitar 900.000–1 juta barel per hari, Indonesia langsung terkena dampak lonjakan harga minyak dunia (13–20%) akibat potensi gangguan di Selat Hormuz. Analisis menunjukkan inflasi dapat melampaui 4%, menggerus daya beli dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dampak fiskal yang paling signifikan adalah pembengkakan subsidi energi; setiap kenaikan US$1 per barel harga ICP dapat memperlemah defisit APBN hingga Rp6,8 triliun, dengan potensi subsidi mencapai Rp515 triliun jika harga minyak mencapai US$120. Situasi ini memaksa realokasi anggaran dari pembangunan ke perlindungan sosial, menguji ketahanan APBN dan stabilitas politik domestik. Implikasi strategisnya adalah urgensi Indonesia untuk melakukan diversifikasi sumber energi, memperkuat cadangan strategis, dan mempercepat transisi energi. Diplomasi aktif sebagai kekuatan menengah untuk mendorong de-eskalasi konflik juga menjadi kebutuhan, sambil mempertahankan posisi netral dalam rivalitas AS-China.
Entitas yang disebut
Lokasi: AS, Israel, Iran, Indonesia, Selat Hormuz