Geopolitik

ASEAN Centralitas di Tengah Rivalitas AS-China: Ujian Terberat dan Peluang untuk Indonesia

23 Mei 2026 Asia Tenggara, Indo-Pasifik 2 views

ASEAN Centrality menghadapi tekanan berat dari rivalitas AS-China yang mempromosikan kerangka strategis alternatif di Indo-Pasifik. Bagi Indonesia, ini merupakan tantangan dan peluang diplomasi besar untuk memperkuat kepemimpinan melalui AOIP dan menjaga keseimbangan serta stabilitas lingkungan strategis kawasan, yang vital bagi kepentingan nasionalnya.

ASEAN Centralitas di Tengah Rivalitas AS-China: Ujian Terberat dan Peluang untuk Indonesia

Analisis strategis terkini oleh lembaga riset Think-Asia (Asian Development Bank Institute) menegaskan bahwa ASEAN Centrality menghadapi ujian terberat dalam konteks rivalitas geopolitik yang semakin intens di kawasan Indo-Pasifik. Intensifikasi kompetisi antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah mendorong kedua kekuatan besar ini untuk secara aktif mempromosikan arsitektur strategis mereka sendiri, seperti AUKUS dan Indo-Pacific Strategy dari AS, serta Global Security Initiative dari China. Kerangka-kerangka ini, yang dirancang untuk memperkuat posisi dan pengaruh masing-masing di kawasan, berpotensi meminggirkan atau bahkan memecah konsensus kolektif ASEAN, sehingga mengancam fondasi centrality yang telah lama menjadi prinsip pemandu hubungan internasional di Asia Tenggara.

Kontekstualisasi Ancaman terhadap ASEAN Centrality

Ancaman terhadap ASEAN Centrality tidak bersifat abstrak, tetapi terejawantah dalam beberapa krisis keamanan konkret yang terus membayangi kawasan. Isu-isu seperti konflik di Laut China Selatan, situasi politik di Myanmar, dan keamanan jalur pelayaran global menjadi arena di mana kesatuan dan efektivitas respon ASEAN terus diuji. Ketidakmampuan ASEAN untuk menghasilkan konsensus dan tindakan yang koheren pada isu-isu keamanan ini semakin mengundang intervensi dan penataan kawasan oleh kekuatan eksternal. Dinamika ini secara langsung mengubah lingkungan strategis Indo-Pasifik, menciptakan polarisasi yang dapat menggeser ASEAN dari posisi sebagai pusat penggerak menjadi pihak yang hanya bereaksi terhadap agenda yang ditetapkan oleh AS dan China.

Indonesia sebagai Konseptor dan Penjaga Keseimbangan: Peluang Diplomatik

Dalam narasi geopolitik yang kompleks ini, posisi Indonesia mendapatkan signifikansi strategis yang meningkat. Sebagai kekuatan pendiri ASEAN dan inisiator utama konsep ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), Indonesia tidak hanya menjadi pemain penting, tetapi juga konseptor yang potensial. Kegagalan ASEAN Centrality akan berdampak langsung pada kepentingan nasional Indonesia, melemahkan kapasitasnya—dan kawasan secara kolektif—untuk menahan tekanan eksternal dan mempertahankan kedaulatan dalam lingkungan yang multipolar. Sebaliknya, keberhasilan memperkuat prinsip ini akan mengangkat peran diplomasi Indonesia menjadi penjaga keseimbangan (balancer) dan mediator dalam rivalitas AS-China. AOIP, yang menekankan keterbukaan, transparansi, dan inclusive leadership, merupakan instrumen diplomatik yang tepat untuk mencegah polarisasi sepenuhnya.

Implikasi strategis yang mendesak bagi kebijakan luar negeri Indonesia adalah kebutuhan untuk memimpin upaya internal revitalisasi ASEAN. Hal ini mencakup mempercepat pembentukan konsensus pada isu-isu keamanan yang sulit dan secara proaktif mentransformasikan AOIP dari konsep filosofis menjadi kerangka operasional yang relevan dan menarik. Indonesia perlu menggalang kerja sama konkret dari mitra dialog ASEAN, memastikan kerangka ini menjadi platform yang menawarkan solusi praktis bagi tantangan keamanan regional, sehingga menarik engagement dari pihak eksternal tanpa mereka mendominasi agenda. Diplomasi Indonesia harus berfokus pada penguatan kapasitas institusional ASEAN untuk menjadi aktor yang independen dan dihormati dalam percaturan Indo-Pasifik.

Dari perspektif pertahanan dan keamanan nasional, keberhasilan menjaga ASEAN Centrality berkaitan langsung dengan upaya Indonesia untuk memelihara lingkungan strategis yang stabil di sekitarnya. Kawasan yang terpolarisasi secara tajam antara blok AS dan China akan meningkatkan risiko konflik, membatasi ruang gerak kebijakan Indonesia, dan mungkin memaksa kompromi pada kepentingan strategisnya di laut dan wilayah perbatasan. Keamanan jalur pelayaran, misalnya, menjadi lebih rentan jika dikelola dalam konteks kompetisi alih-alih kooperasi. Oleh karena itu, investasi dalam memperkuat ASEAN Centrality merupakan investasi dalam forward defense dan stabilitas regional, yang merupakan komponen vital dari postur pertahanan Indonesia.

Risiko ke depan jelas terlihat: fragmentasi ASEAN dapat terjadi jika tekanan eksternal terlalu kuat dan ketidakmampuan internal untuk beradaptasi. Namun, peluang juga terbuka. Rivalitas AS-China dapat mendorong kedua kekuatan untuk lebih menghargai ASEAN sebagai mitra yang diperlukan untuk stabilitas regional, terutama jika kawasan mampu menunjukkan kohesi dan inisiatif sendiri. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi katalisator kohesi tersebut melalui diplomasi yang cerdas dan kepemimpinan yang visioner. Keberhasilan ini bukan hanya tentang prestise, tetapi tentang kepentingan nasional yang mendasar: memastikan kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi ruang yang multipolar, stabil, dan memberikan ruang bagi Indonesia untuk tumbuh sebagai kekuatan regional yang signifikan.

Entitas yang disebut

Organisasi: Think-Asia (Asian Development Bank Institute), ASEAN, AUKUS

Lokasi: Indonesia, AS, Tiongkok, Laut China Selatan, Myanmar, Indo-Pasifik