Geopolitik

Kebijakan Indo-Pacific Strategy Indonesia dan Tantangan Menjaga Netralitas di Tengah Rivalitas AS-China

19 Mei 2026 Indo-Pacific, ASEAN 2 views

Indo-Pacific Strategy Indonesia merupakan respon strategis untuk menavigasi rivalitas AS-China dengan menekankan ASEAN Centrality dan kerjasama fungsional. Tantangan utamanya adalah menjaga netralitas operasional agar kerjasama teknis pertahanan tidak dipersepsikan sebagai kemiringan strategis yang memicu ketegangan. Keberhasilan strategi bergantung pada kepemimpinan Indonesia dalam memperkuat konsensus ASEAN dan mempromosikan penyelesaian sengketa multilateral untuk menangkal pendekatan unilateral kekuatan besar.

Kebijakan Indo-Pacific Strategy Indonesia dan Tantangan Menjaga Netralitas di Tengah Rivalitas AS-China

Dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pacific yang semakin dicirikan oleh persaingan strategis Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah memaksa negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, untuk merumuskan respon kebijakan yang cermat dan berprinsip. Sebagai respon, Indonesia mengembangkan Indo-Pacific Strategy yang secara eksplisit menempatkan ASEAN Centrality, inklusivitas, dan transparansi sebagai pilar utama. Strategi ini secara substansif berfokus pada kerjasama non-militer di bidang konektivitas, keamanan maritim, dan ekonomi digital, yang mencerminkan keinginan untuk menciptakan kawasan yang stabil, terbuka, dan kooperatif tanpa terperangkap dalam narasi konfrontasi kekuatan besar. Dalam konteks ini, Indonesia secara ambisius memposisikan diri sebagai ‘bridge builder’ dan stabilisator, sebuah peran yang strategis namun penuh tantangan.

Signifikansi Strategis dan Tantangan Netralitas Operasional

Signifikansi strategis dari kebijakan ini terletak pada upaya Indonesia untuk memimpin pengaturan arsitektur keamanan regional berbasis aturan (rules-based order) yang tidak didominasi oleh satu kekuatan pun. Fokus pada multilateralisme dan ASEAN Centrality adalah upaya untuk memperkuat kapasitas kolektif kawasan dalam menghadapi tekanan eksternal. Namun, implementasinya menghadapi ujian nyata dalam menjaga netralitas operasional. Kerjasama teknis-keamanan, seperti keterlibatan dalam Maritime Training Activity (MTA) dengan AS, merupakan contoh konkret di mana kerjasama fungsional untuk peningkatan kapasitas dapat dengan mudah dipersepsikan sebagai kemiringan strategis atau bahkan aliansi de facto. Persepsi ini, jika tidak dikelola dengan hati-hati, berpotensi memicu reaksi balik dari Tiongkok, terutama di wilayah sensitif seperti Laut China Selatan, yang justru dapat mengikis stabilitas yang ingin dibangun. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kemampuan diplomasi Indonesia untuk memisahkan kerjasama kapasitas teknis dari komitmen politik-strategis yang mengikat.

Implikasi Kebijakan Pertahanan dan Keamanan Nasional

Implikasi langsung dari Indo-Pacific Strategy terhadap kebijakan pertahanan dan keamanan nasional Indonesia adalah perlunya keseimbangan yang sangat presisi. Di satu sisi, Indonesia memerlukan penguatan kapasitas maritim dan domain lainnya untuk menjaga kedaulatan dan hak berdaulatnya, yang sering kali membutuhkan kerja sama teknis dengan berbagai mitra. Di sisi lain, postur pertahanan dan keamanan harus tetap konsisten dengan prinsip bebas-aktif dan tidak memihak pada blok mana pun. Ini menuntut transparansi dan komunikasi strategis yang jelas kepada semua pihak tentang tujuan kerjasama tersebut, yaitu semata-mata untuk meningkatkan kapasitas nasional dan kontribusi terhadap keamanan kolektif, bukan untuk melawan negara tertentu. Kementerian Pertahanan dan TNI harus mengintegrasikan narasi strategi Indo-Pacific ini ke dalam doktrin dan postur operasional, dengan menyadari bahwa setiap latihan militer atau akuisisi alutsista akan dibaca melalui lensa persaingan AS-Tiongkok.

Ke depan, keberhasilan strategi ini tidak hanya bergantung pada kebijakan domestik Indonesia, tetapi pada kemampuannya memimpin dan membangun konsensus di dalam ASEAN. Tantangan terbesar adalah menjaga solidaritas dan visi bersama ASEAN di tengah tarikan dan tekanan yang berbeda dari kekuatan besar terhadap masing-masing negara anggota. Indonesia harus secara aktif mengadvokasi dan memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa secara multilateral dan damai, menolak pendekatan unilateral yang sering diambil kekuatan besar. Potensi risiko utama adalah fragmentasi ASEAN dan erosi ASEAN Centrality, yang akan melemahkan posisi tawar kolektif kawasan. Namun, peluang juga terbuka jika Indonesia berhasil mengonsolidasikan ASEAN dan menjadikan Indo-Pacific Strategy-nya sebagai katalis untuk arsitektur regional yang lebih inklusif dan berimbang, di mana kerjasama fungsional di bidang maritim, ekonomi digital, dan connectivity dapat berjalan tanpa harus selalu dilihat sebagai proxy dari rivalitas geopolitik yang lebih luas.

Entitas yang disebut

Organisasi: CNN Indonesia, ASEAN

Lokasi: Indonesia, AS, China