Analisis Kebijakan

Kebijakan Prabowo Subianto terhadap Laut China Selatan: Kontinuitas atau Perubahan?

10 April 2026 Indonesia, Laut China Selatan 0 views

Kebijakan Prabowo Subianto terhadap Laut China Selatan kemungkinan akan melanjutkan paradigma 'bebas-aktif' dengan penekanan lebih kuat pada pembangunan kekuatan maritim mandiri dan diplomasi assertif untuk menjaga kepentingan nasional. Implikasi strategis mencakup penguatan postur pertahanan di Natuna dan peninjauan kerjasama keamanan yang selektif, dengan tujuan mempertahankan netralitas aktif di tengah persaingan AS-China. Pilihan ini menghadapi risiko tekanan geopolitik namun juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai stabilizer kawasan dan poros maritim dunia.

Kebijakan Prabowo Subianto terhadap Laut China Selatan: Kontinuitas atau Perubahan?

Pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia membawa pertanyaan mendasar mengenai arah kebijakan luar negeri dan pertahanan negara, khususnya dalam menangani kompleksitas sengketa di Laut China Selatan. Sengketa ini bukan hanya konflik teritorial antara beberapa negara claimant, tetapi telah menjadi arena utama persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China, dengan implikasi langsung terhadap keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Sebagai mantan Menteri Pertahanan yang aktif memperkuat postur militer dan diplomasi pertahanan Indonesia, track record Prabowo Subianto menjadi bahan analisis utama untuk memprediksi pendekatan pemerintahan baru terhadap isu yang sensitif ini.

Analisis Konteks Strategis dan Signifikansi bagi Indonesia

Laut China Selatan merupakan wilayah dengan signifikansi strategis yang sangat tinggi bagi Indonesia, baik secara ekonomi, keamanan, maupun geopolitik. Di luar klaim langsung atas Natuna, Indonesia memiliki kepentingan vital dalam menjaga keamanan dan keselamatan lalu lintas laut di kawasan, mengamankan sumber daya alam, serta mempertahankan prinsip-prinsip hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982. Kebijakan luar negeri Indonesia dalam konteks ini telah lama berjalan di bawah paradigma 'bebas-aktif', yang menekankan kemandirian dan penolakan terhadap aliansi militer blok tertentu. Namun, dinamika persaingan kekuatan besar yang semakin intensif, ditambah dengan aktivitas militer dan pembangunan infrastruktur oleh berbagai pihak di Laut China Selatan, terus menguji efektivitas dan daya tahan pendekatan tradisional ini.

Posisi geografis Indonesia yang strategis, serta visinya sebagai 'poros maritim dunia', menempatkan negara ini pada posisi yang harus secara aktif mengelola ketegangan di kawasan. Analisis awal menunjukkan potensi kontinuitas dalam paradigma dasar kebijakan tersebut, namun dengan penekanan yang mungkin lebih kuat pada dua aspek: pembangunan kekuatan maritim nasional yang mandiri, dan diplomasi yang lebih assertif untuk mendukung kepentingan nasional. Era Prabowo Subianto sebagai presiden dapat menjadi fase dimana konsep 'netralitas aktif' tidak hanya didefinisikan sebagai tidak memihak, tetapi sebagai kemampuan untuk secara aktif membentuk lingkungan strategis melalui kekuatan yang credible.

Implikasi terhadap Postur Pertahanan dan Kerjasama Keamanan

Implikasi strategis langsung dari pendekatan pemerintahan baru terhadap Laut China Selatan akan sangat terlihat dalam domain pertahanan dan kerjasama keamanan. Sebagai mantan menteri yang dikenal fokus pada modernisasi Alutsista dan peningkatan kemampuan tempur, ada kecenderungan kuat bahwa Prabowo Subianto akan melanjutkan, bahkan mungkin mempercepat, program pembangunan kekuatan maritim. Ini termasuk penguatan armada kapal perang, pengembangan sistem sensor dan surveillance di wilayah perbatasan, serta investasi dalam kemampuan anti-access/area denial (A2/AD) untuk melindungi kedaulatan di sekitar Kepulauan Natuna. Pembangunan kekuatan nasional ini merupakan langkah fundamental untuk menjaga 'netralitas yang aktif', karena hanya dengan kekuatan yang tangible Indonesia dapat memiliki bargaining position yang kuat dalam diplomasi dan menolak tekanan dari kekuatan besar.

Selain pembangunan kekuatan mandiri, pemerintahan baru juga akan dihadapkan pada kebutuhan untuk meninjau ulang kerjasama keamanan dengan mitra tradisional (seperti AS dan negara-negara ASEAN) serta non-tradisional. Dinamika geopolitik yang kompetitif sering kali memaksa negara-negara 'swing' seperti Indonesia untuk mengambil posisi yang lebih jelas, atau setidaknya lebih transparan, dalam kerangka kerjasama mereka. Kebijakan Indonesia mungkin akan semakin selektif, memprioritaskan kerjasama yang secara langsung memperkuat kemampuan mandiri dan tidak mengikat Indonesia secara politik pada satu blok tertentu. Kerjasama dalam bentuk latihan bersama, transfer teknologi pertahanan, dan intelligence sharing akan terus menjadi penting, namun dengan kalkulasi yang lebih hati-hati terhadap implikasi geopolitiknya.

Potensi Risiko dan Peluang di Tengah Persaingan Kekuatan Besar

Pilihan jalan yang diambil oleh pemerintahan Prabowo Subianto akan menghadapi beberapa risiko strategis yang nyata. Risiko utama adalah potensi meningkatnya tekanan atau bahkan konfrontasi dari salah satu kekuatan besar jika kebijakan Indonesia dianggap terlalu mendekati pihak lain atau terlalu assertif dalam menegakkan klaimnya di Laut China Selatan. Risiko lainnya adalah terkurasnya sumber daya nasional akibat kebutuhan untuk terus meningkatkan postur pertahanan dalam lingkungan yang semakin kompetitif, yang dapat berdampak pada prioritas pembangunan lainnya. Selain itu, terdapat risiko reputasi jika Indonesia gagal mempertahankan konsistensi dan prinsip dalam diplomasinya, sehingga mengurangi kredibilitasnya sebagai pemimpin regional.

Namun, di balik risiko tersebut, terdapat juga peluang strategis yang signifikan. Peningkatan kapabilitas pertahanan maritim dan pendekatan diplomasi yang lebih terukur dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai stabilizer dan honest broker di kawasan ASEAN. Ini dapat meningkatkan peran Indonesia dalam mekanisme seperti ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dan mendorong resolusi konflik berdasarkan hukum internasional. Lebih jauh, penguatan kemandirian pertahanan dapat membuka peluang bagi industri pertahanan nasional dan mengurangi ketergantungan pada pihak luar. Secara akhir, keputusan-keputusan strategis yang dibuat pada periode awal pemerintahan ini akan sangat menentukan apakah Indonesia dapat secara efektif mengoperasionalkan visi 'poros maritim dunia' di tengah gelombang persaingan AS-China di Laut China Selatan, atau justru terjebak dalam dinamika yang mengganggu fokus pembangunan nasional.

Entitas yang disebut

Orang: Prabowo Subianto

Organisasi: AS, China

Lokasi: Indonesia, Laut China Selatan