Analisis Kebijakan
Menakar Kesiapan Industri Pertahanan Nasional dalam Rantai Pasok Global yang Terfragmentasi
Ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi AS-China telah menyebabkan fragmentasi rantai pasok global, termasuk untuk komponen pertahanan kritis seperti semikonduktor, paduan logam khusus, dan perangkat lunak. Laporan Kementerian Pertahanan menyoroti kerentanan proyek modernisasi alutsista Indonesia, seperti KF-21 Boramae dan kapal selam Scorpene, yang bergantung pada komponen dari multi-nation consortium. Analisis dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengidentifikasi titik lemah pada sub-sistem elektronik, mesin, dan material komposit yang masih diimpor. Implikasi strategisnya adalah meningkatnya risiko penundaan dan biaya tambahan, serta ketergantungan pada keputusan politik negara pemasok. Kebijakan 'veto de facto' dapat terjadi jika komponen berasal dari negara yang bersengketa. Insight untuk kebijakan adalah mendorong lompatan dalam penguasaan teknologi kritis melalui joint development dengan mitra yang memiliki kepentingan strategis serupa, seperti Korea Selatan atau Turki, sekaligus memperdalam riset material dan elektronik di dalam negeri oleh BUMN pertahanan dan universitas.
Entitas yang disebut
Organisasi: Kementerian Pertahanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BUMN pertahanan
Lokasi: Indonesia, AS, China, Korea Selatan, Turki