Intelijen & Keamanan
Peningkatan Keterlibatan Pasukan Pengamanan Perbatasan dalam Counter-Disinformation di Daerah Perbatasan: Studi Kasus Kalimantan
Berdasarkan laporan internal Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas), terdapat pola baru dimana konten disinformasi dan propaganda ditujukan khusus kepada komunitas di daerah perbatasan, khususnya Kalimantan, melalui platform media sosial lokal dan aplikasi pesan terenkripsi. Konten ini sering mengangkat sentimen separatisme semu, ketidakpuasan terhadap pembangunan, dan narasi yang meragukan legitimasi pemerintah pusat. Pamtas kini tidak hanya bertugas patroli fisik, tetapi juga dilibatkan dalam program literasi digital dan counter-narrative bersama dengan badan komunikasi strategis pemerintah. Analisis menunjukkan ini merupakan bentuk adaptasi terhadap ancaman hybrid warfare yang menggunakan disinformasi sebagai alat untuk menguji kohesi sosial dan loyalitas masyarakat di wilayah strategis. Implikasi kebijakan adalah kebutuhan untuk memperluas mandat dan pelatihan Pamtas dalam bidang Psychological Operations (PsyOps) defense dan digital community engagement, serta koordinasi yang lebih erat dengan Badan Intelijen Strategis (BIS) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Entitas yang disebut
Organisasi: Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas), badan komunikasi strategis pemerintah, Badan Intelijen Strategis (BIS), Kementerian Komunikasi dan Informatika
Lokasi: Kalimantan