Dalam peta geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompleks, ASEAN secara konsisten mendaku posisi sebagai 'episentrum pertumbuhan' dan mempromosikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menekankan inklusivitas dan kerja sama. Namun, klaim ambisius ini berhadapan dengan realitas yang keras: sebuah paradoks mendasar dalam netralitas yang ingin dijaga. Di satu sisi, blok ini berkomitmen untuk tidak memihak dalam persaingan strategis antara AS dan China. Di sisi lain, tarikan kepentingan ekonomi dan keamanan yang berbeda dari kedua kekuatan besar tersebut secara faktual mengikis kohesi internal dan kemampuan kolektif ASEAN untuk bertindak sebagai satu kesatuan yang netral.
Retakan dalam Kohesi dan Tantangan Kepemimpinan Indonesia
Paradoks ini terwujud secara nyata dalam beberapa kasus krusial. Di Laut China Selatan, respons negara-negara anggota terhadap klaim dan aktivitas China sangat beragam, mencerminkan perbedaan dalam ketergantungan ekonomi, kedekatan geografis, dan postur keamanan masing-masing. Sementara itu, kerja sama keamanan individual beberapa anggota dengan AS dan sekutunya—seperti partisipasi dalam AUKUS atau latihan militer bilateral—menciptakan kesan fragmentasi dalam pendekatan keamanan kawasan. Dalam konteks ini, peran Indonesia menjadi kritis. Sebagai inisiator AOIP dan negara terbesar di kawasan, Indonesia dituntut tidak hanya untuk menjaga netralitasnya sendiri, tetapi juga untuk memimpin ASEAN bertindak secara kolektif dan proaktif. Tantangannya adalah mengubah ASEAN dari entitas yang seringkali bereaksi terhadap agenda kekuatan besar menjadi pembentuk utama arsitektur kawasan, yang mampu menetapkan norma dan aturan main sendiri.
Implikasi Strategis: Otonomi yang Terancam dan Fragmentasi Kawasan
Implikasi strategis dari kegagalan mengelola paradoks ini sangatlah serius. Jika ASEAN tidak mampu menegaskan netralitasnya yang efektif dan kohesif, relevansinya sebagai pemain sentral di Indo-Pasifik akan semakin memudar. Alih-alih menjadi 'episentrum pertumbuhan' yang mandiri, kawasan berisiko terfragmentasi menjadi beberapa sphere of influence dari kekuatan eksternal. Masing-masing negara anggota akan semakin terseret ke dalam orbit pengaruh AS atau China berdasarkan kepentingan domestiknya yang sempit. Bagi Indonesia, skenario ini merupakan ancaman langsung terhadap otonomi strategis dan kebebasan bertindaknya dalam politik luar negeri. Kepentingan nasional Indonesia, termasuk kedaulatan di Natuna dan stabilitas kawasan, akan semakin sulit dijaga jika dikelilingi oleh negara-negara tetangga yang telah terpolarisasi dan lembaga regional yang tidak efektif.
Lebih jauh, kegagalan kolektif ini akan melemahkan daya tawar ASEAN dalam menyelesaikan isu-isu sensitif seperti krisis di Myanmar. Ketidakmampuan mencapai konsensus yang kuat dan tindakan tegas justru mengundang intervensi dan penyelesaian oleh kekuatan eksternal, yang selanjutnya mengikis prinsip 'ASEAN Centrality'. Dari perspektif pertahanan dan keamanan nasional Indonesia, lingkungan strategis yang terfragmentasi dan kompetitif akan meningkatkan kompleksitas ancaman, memerlukan alokasi sumber daya keamanan yang lebih besar, dan berpotensi memicu ketegangan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Masa depan ASEAN sebagai kekuatan kolektif bergantung pada kemampuannya untuk mengatasi paradoks ini. Peluangnya terletak pada konsistensi menjalankan AOIP sebagai kerangka operasional, bukan sekadar dokumen deklaratif. ASEAN perlu membangun mekanisme yang lebih kuat untuk menyelaraskan kepentingan nasional yang berbeda menjadi kepentingan kolektif, terutama dalam menanggapi tekanan dari kekuatan besar. Bagi Indonesia, momentum untuk memimpin dengan memberi contoh (lead by example) sangatlah penting. Konsistensi kebijakan luar negeri bebas-aktif, diplomasi yang gigih, serta penguatan kapasitas pertahanan nasional dan kerja sama keamanan maritim dengan anggota ASEAN lain yang sevisi, adalah langkah strategis untuk menjaga agar ASEAN tetap menjadi poros kestabilan, bukan sekadar arena perebutan pengaruh AS dan China. Pilihan yang dihadapi bukan lagi antara netral atau tidak, tetapi antara menjadi subjek yang membentuk dinamika kawasan atau objek yang dibentuk oleh dinamika tersebut.