Opini
Menyikapi Politik Luar Negeri 'Bebas-Aktif' Indonesia di Era Kompetisi Kekuatan Besar
Majalah Tempo dalam analisisnya mengangkat dilema penerapan politik luar negeri bebas-aktif Indonesia di tengah intensifikasi persaingan strategis antara Amerika Serikat dan China, yang mencakup tidak hanya dimensi militer tetapi juga ekonomi, teknologi, dan pengaruh. Artikel ini membahas bagaimana Indonesia berusaha menjaga hubungan baik dan mengambil manfaat dari kedua belah pihak sambil menghindari jebakan keterikatan yang memaksa untuk memilih salah satu pihak.
Fakta menunjukkan Indonesia terlibat dalam kerja sama ekonomi dengan China melalui Belt and Road Initiative (BRI) sambil juga meningkatkan kerja sama keamanan dengan AS dan sekutunya seperti dalam latihan bersama. Kebijakan ini memerlukan keseimbangan yang rumit, terutama ketika kepentingan kedua kekuatan besar tersebut berbenturan langsung di kawasan, seperti di Laut China Selatan atau dalam isu teknologi seperti 5G dan keamanan siber.
Analisis strategis mengungkapkan bahwa agar bebas-aktif tetap relevan dan efektif, Indonesia perlu memperkuat kapasitas nasionalnya—baik dari segi ekonomi, pertahanan, maupun diplomasi—sehingga memiliki daya tawar yang lebih kuat. Kebijakan ini juga menuntut kejelasan dalam menyuarakan kepentingan nasional berdasarkan hukum internasional, khususnya UNCLOS. Implikasinya adalah kebutuhan untuk sebuah 'strategi besar' (grand strategy) yang mengintegrasikan semua instrumen kekuatan nasional untuk mendukung posisi Indonesia sebagai subjek, bukan sekadar objek, dalam dinamika geopolitik regional.