Opini

Opini: Merevitalisasi Peran ASEAN Centrality di Tengah Meningkatnya Kompetisi Amerika Serikat dan Tiongkok

10 Juli 2026 ASEAN, Indo-Pasifik 5 views

Intensifikasi ketegangan AS-China menguji kredibilitas ASEAN centrality sebagai poros stabilitas regional. Indonesia, sebagai kekuatan utama ASEAN, memiliki kepentingan strategis untuk mempertahankan prinsip ini guna mencegah fragmentasi internal dan eskalasi konflik yang dapat mengancam keamanan nasionalnya. Revitalisasi peran ASEAN memerlukan kepemimpinan proaktif Indonesia untuk memperkuat kohesi internal, mempercepat finalisasi COC, dan mengoperasionalkan AOIP sebagai kerangka kerja sama inklusif.

Opini: Merevitalisasi Peran ASEAN Centrality di Tengah Meningkatnya Kompetisi Amerika Serikat dan Tiongkok

Dinamika geopolitik memasuki tahun 2025 ditandai dengan intensifikasi kompetisi strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tekanan sistematis dari persaingan dua kekuatan besar ini secara langsung menguji daya tahan dan kredibilitas arsitektur keamanan kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks ini, prinsip ASEAN centrality—yang selama ini menjadi poros utama diplomasi dan politik luar negeri negara-negara anggota—menghadapi tantangan eksistensial terberat dalam beberapa dekade. Kemampuan kolektif ASEAN untuk mempertahankan netralitas, solidaritas, dan peran sentralnya sebagai platform pengaturan norma-norma kawasan sedang diuji di tengah tarikan kepentingan geopolitik yang kuat.

Signifikansi Strategis bagi Stabilitas Regional dan Kepentingan Nasional Indonesia

Sebagai kekuatan terbesar dan salah satu pendiri ASEAN, Indonesia memiliki kepentingan nasional strategis untuk memastikan efektivitas prinsip ASEAN centrality. Kredibilitas ASEAN sebagai penggerak utama kerja sama dan arsitektur keamanan di Asia Pasifik berada pada titik kritis. Fragmentasi internal, yang dapat terjadi jika negara-negara anggota terpolarisasi dan memilih sisi dalam ketegangan AS-China, berpotensi mengubah kawasan Asia Tenggara menjadi ajang proxy competition. Skenario ini secara langsung merugikan kepentingan Indonesia yang membutuhkan lingkungan regional yang stabil untuk mendukung pencapaian target pembangunan ekonomi, menjaga kedaulatan wilayah, dan melindungi kedaulatan nasional.

Implikasi keamanan dan pertahanan dari melemahnya ASEAN centrality sangat nyata. Mekanisme dialog berbasis ASEAN seperti ASEAN Defence Ministers' Meeting (ADMM), ASEAN Regional Forum (ARF), dan East Asia Summit (EAS) berisiko kehilangan relevansi dan efektivitas. Ketiadaan platform netral yang mampu memoderasi perbedaan dapat memicu eskalasi ketegangan langsung di lapangan, khususnya di wilayah-wilayah sensitif seperti Laut China Selatan yang berbatasan langsung dengan wilayah yurisdiksi Indonesia. Oleh karena itu, upaya mempertahankan dan merevitalisasi peran ASEAN bukan lagi sekadar agenda diplomasi konvensional, melainkan kebutuhan mendesak untuk keamanan nasional Indonesia dan negara anggota lainnya.

Implikasi Kebijakan dan Agenda Revitalisasi ASEAN Centrality

Dalam situasi yang menantang ini, kepemimpinan regional Indonesia yang proaktif, netral, dan berwibawa menjadi faktor kunci. Agenda revitalisasi harus mencakup beberapa prioritas strategis. Pertama, memperkuat kohesi dan solidaritas internal ASEAN melalui konsultasi intensif guna mencegah fragmentasi. Kedua, mendorong finalisasi dan implementasi Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan yang efektik dan mengikat secara hukum sebagai penanda kemampuan ASEAN mengelola sengketa. Ketiga, secara aktif mengoperasionalkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) menjadi kerangka kerja sama konkret.

AOIP, dengan prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparansi, dan rule-based, dapat menawarkan narasi alternatif yang menampung kepentingan berbagai pihak tanpa mengalienasi kekuatan manapun. Hal ini penting untuk menjaga relevansi ASEAN dalam membentuk masa depan kawasan. Politik luar negeri Indonesia perlu memanfaatkan semua jalur multilateral, baik dalam kerangka ASEAN maupun forum seperti G20, untuk menjembatani perbedaan dan mencari common ground antara AS dan Tiongkok. Selain itu, ASEAN perlu memperdalam kerja sama praktis di bidang non-tradisional seperti keamanan siber, keamanan maritim, dan ketahanan kesehatan, yang dapat membangun kepercayaan dan menunjukkan nilai tambah nyata dari mekanisme ASEAN-centric.

Merevitalisasi ASEAN centrality di tengah geopolitik yang semakin terpolarisasi merupakan tugas yang kompleks namun tidak terhindarkan. Risiko utama adalah terkikisnya peran sentral ASEAN yang akan menggeser pusat pengambilan keputusan strategis kawasan ke luar mekanisme ASEAN, sehingga merugikan otonomi dan kedaulatan negara-negara anggota. Namun, situasi ini juga membuka peluang bagi ASEAN, dipimpin Indonesia, untuk membuktikan ketangguhannya dengan menawarkan solusi inklusif dan berbasis aturan. Keberhasilan atau kegagalan upaya ini akan menentukan tidak hanya masa depan ASEAN, tetapi juga peta stabilitas dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik pada dekade mendatang.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, AUKUS, QUAD, ADMM, ARF, EAS

Lokasi: Indonesia, Laut China Selatan