Opini
Strategi 'Total Defence' Finlandia dan Relevansinya bagi Ketahanan Nasional Indonesia
Konsep 'Total Defence' Finlandia, yang sukses menjadi deterrent terhadap ancaman dari tetangganya yang besar, menarik untuk dikaji relevansinya bagi Indonesia. Strategi ini mengintegrasikan seluruh elemen bangsa—pertahanan militer, sipil, ekonomi, psikologis, dan sosial—dalam satu kerangka ketahanan nasional yang kohesif. Intinya adalah mempersiapkan seluruh masyarakat dan struktur negara untuk menghadapi krisis, dari serangan militer hingga hybrid threats. Artikel ini menganalisis apakah model serupa dapat diadaptasi untuk konteks Indonesia yang geografis dan sosialnya berbeda.
Analisis menunjukkan relevansi prinsip-prinsip seperti kesiapan masyarakat (termasuk wajib militer/sukarela), proteksi infrastruktur kritikal, dan ketahanan logistik. Indonesia dapat mengadopsi semangat 'whole-of-nation approach' ini untuk memperkuat ketahanan menghadapi ancaman multidimensi, mulai dari bencana alam, terorisme, hingga tekanan geopolitik di wilayah perbatasan. Pendidikan bela negara dan pelibatan komponen cadangan (Komcad) TNI bisa diperkuat dalam kerangka ini.
Implikasi strategis bagi kebijakan pertahanan Indonesia adalah perlunya pergeseran paradigma dari pertahanan yang berpusat pada TNI (military-centric) menuju pertahanan yang melibatkan semua sumber daya bangsa (nation-centric). Ini membutuhkan revisi undang-undang pertahanan, koordinasi lintas kementerian yang lebih kuat (Kemhan, Kemendagri, Bappenas, dll.), serta kampanye kesadaran publik. Meski tidak bisa disalin mentah-mentah, prinsip 'Total Defence' menawarkan lensa untuk memperkuat resilience Indonesia di tengah lingkungan strategis yang semakin tidak pasti.
Entitas yang disebut
Organisasi: TNI, Kemhan, Kemendagri, Bappenas
Lokasi: Finlandia, Indonesia